Manager Corporate Share Value (CSV) I.League Hanif Marjuni
(kanan) dan Kepala Sekolah SMAN 2 Kuta Utara, I Ketut Supardanayasa saat
sosialisasi di SMAN 2 Kuta Utara, Kabupaten Badung, Rabu (11/3/2026) (Foto:
lan)
BADUNG,
PERSPECTIVESNEWS – I.League sebagai operator kompetisi sepak bola
profesional di Tanah Air menargetkan selama 2026 ini melakukan sosialisasi program
Goes to Campus dan Goes to School di 18 kampus dan sekolah di Indonesia,
terutama di daerah yang terdapat klub Liga 1.
Manager Corporate Share Value (CSV) I.League Hanif Marjuni
mengatakan, Goes to Campus dan Goes to School merupakan program kerja sama
dengan BRI untuk memberikan pemahaman kepada publik bahwa berkarier di sepak
bola itu tidak harus menjadi atlet (pesepakbola).
“Di klub sepak bola (profesional) seperti Liga 1 itu ada
media officer, ada marketing official, LOC (panitia penyelenggara,red) dan
sebagainya, jadi sejahtera di sepak bola itu tidak harus menjadi pesepak bola,”
ujar Hanif Marjuni ditemui di sela-sela Goes to School di SMAN 2 Kuta Utara,
Kabupaten Badung, Rabu (11/3/2026).
Hanif Marjuni mengatakan sampai saat ini pihaknya sudah
melakukan Goes to Campus dan Goes to School di 10 kampus dan 10 sekolah dari 18
kampus dan sekolah yang ditargetkan dilakukan sosialisasi. Di Bali, lanjut dia,
pihaknya sudah melakukan sosialisasi di Kampus Undiksha Singaraja, hari Senin
(9/3/2026) dan SMAN 2 Kuta Utara, Kabupaten Badung.
Tahun lalu, sebut Hanif, sudah lima kampus dan lima sekolah
diberikan sosialisasi, antara lain Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta,
Universitas Negeri Padang, serta sejumlah SMA unggulan seperti SMA 4 Bandung,
SMA 3 Malang, SMA 1 Padang, dan SMA 1 Lampung.
Disebutkan, I.League terus mendorong generasi muda mengenal
luas peluang karier di industri sepak bola tidak hanya menjadi pemain di
lapangan, tetapi juga industri besar dengan berbagai profesi di balik layar.
Hanif mengatakan tujuan dilakukan sosialisasi untuk
menjelaskan kepada masyarakat bahwa kegiatan sepak bola sebagai bagian dari
industri olahraga global, memiliki dampak ekonomi besar.
“Tahun lalu kami bekerja sama dengan Berry Research
Institute dan hasilnya menunjukkan bahwa perputaran uang dalam industri sepak
bola di Indonesia mencapai sekitar Rp10,4 triliun per tahun,” ujarnya.
Menurut Hanif, angka tersebut menunjukkan bahwa industri sepak
bola memiliki ekosistem yang luas dan membuka banyak peluang kerja bagi
generasi muda.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMAN 2 Kuta Utara, I Ketut
Supardanayasa, menyambut baik kegiatan tersebut karena memberikan wawasan baru
kepada siswa terkait peluang karier di dunia sepak bola.
Ia mengatakan dalam empat tahun terakhir sekolahnya memang
fokus pada pembinaan olahraga, khususnya sepak bola. Bahkan beberapa siswa
berhasil menembus level nasional.
“Buktinya tiga pemain tim nasional U17 merupakan siswa kami,
termasuk sang kapten. Selain itu ada juga beberapa siswa yang sudah bermain di
Elite Pro Academy,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan seperti ini memberikan edukasi kepada
siswa bahwa dunia kerja tidak hanya terbatas pada pekerjaan kantoran, tetapi
juga dapat berkembang melalui industri olahraga.
Sekolah juga memberikan dukungan bagi siswa yang berstatus
atlet dengan memberikan fleksibilitas dalam proses belajar. Para atlet tetap
mengikuti pelajaran, namun pembelajaran dapat dilakukan secara daring ketika
mereka menjalani latihan atau kompetisi. (lan)
