Tempat penampungan (kandang) ternak milik Haji Mobin di Desa
Banyubiru, Kecamatan Negara, Jembrana, pada Sabtu (23/5/2026). (Foto:
dik/perspectives)
JEMBRANA, PERSPECTIVESNEWS-
Menjelang Hari Raya Idul Adha, geliat pasar hewan kurban di tingkat pengepul
mengalami pasang surut. Di tengah kondisi harga yang relatif aman dan stabil,
para pedagang justru harus gigit jari lantaran tingkat permintaan pasar merosot
tajam hingga 25 persen dibandingkan tahun lalu.
Fenomena ini terlihat jelas di tempat penampungan ternak
milik Haji Mobin di Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, Jembrana. Berdasarkan
pantauan di lokasi pada Sabtu (23/5/2026), jumlah stok hewan kurban yang
disediakan menyusut drastis sebagai dampak langsung dari sepinya pembeli.
"Permintaan tahun ini menurun cukup signifikan. Banyak
pembeli sekarang langsung memesan ke peternak, jadi pengepul seperti kami agak
berkurang peminatnya," ungkap Haji Mobin saat ditemui di lokasi
penampungan.
Penurunan minat ini memaksa Haji Mobin memangkas pasokan
modalnya demi menghindari kerugian lebih besar. Jik tahun lalu pihaknya mampu
menyediakan sekitar 250 ekor kambing dan 10 ekor sapi. Saat ini, hanya 200 ekor
kambing dan 4 ekor sapi.
Secara akumulatif, penurunan operasional ini menyentuh angka
25 persen. Sejauh ini, sisa pesanan yang masuk masih didominasi oleh kelompok
masjid dan yayasan keagamaan, baik dari area lokal Jembrana maupun luar daerah.
Meskipun daya beli melemah, Haji Mobin memilih untuk
menjaga komitmen harga agar tetap stabil dan terjangkau bagi masyarakat yang
ingin beribadah. Nilai jual hewan kurban dipatok bervariasi, menyesuaikan
dengan bobot dan kualitas fisik ternak. Kisaran harga yakni diangka Rp2 juta
sampai dengan Rp7 juta per ekor.
Di samping stabilitas harga, ia juga menjamin bahwa seluruh
kambing dan sapi yang ada di penampungannya telah melewati proses pengecekan
kelayakan. Haji Mobin memastikan seluruh hewan kurban dalam kondisi prima,
sehat, dan siap didistribusikan tepat pada hari raya. (dik)
