Penampilan para peserta Utsawa Widyatarka Susastra (UWS) Bali
yang digelar pada Rabu (6/5/2026) – Sabtu (10/5/2026), bertempat di Kantor DPD
PDI Perjuangan Provinsi Bali. (Foto: Ist)
DENPASAR,
PERSPECTIVESNEWS- Bulan Bung Karno (BBK) 2026 tak hanya diisi dengan berbagai
rangkaian kegiatan, tetapi sekaligus menjadi momen istimewa memperingati HUT
yang ke-53.
Terkait momen tersebut,
DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali menggelar Utsawa Widyatarka Susastra (UWS) Bali
yang digelar pada Rabu (6/5/2026) – Sabtu (10/5/2026), bertempat di Kantor DPD
PDI Perjuangan Provinsi Bali.
Sejak hari pertama
digelar, ajang yang memadukan kompetisi intelektual dengan pelestarian budaya lokal
ini, diikuti secara antusias institusi pendidikan dari seluruh Bali. Ini menunjukkan
bahwa minat generasi muda terhadap bahasa dan sastra Bali masih sangat tinggi.
Pada jenjang Sekolah
Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA),
masing-masing diikuti oleh 18 sekolah dari 9 kabupaten/kota se-Bali. Setiap
daerah mengirimkan dua sekolah terbaiknya, sehingga secara keseluruhan terdapat
54 sekolah yang bersaing di tiga jenjang tersebut.
Sementara itu,
partisipasi dari tingkat perguruan tinggi (PT) juga cukup signifikan. Sebanyak
9 universitas dari berbagai wilayah di Bali turut ambil bagian dalam audisi
ini.
Kehadiran peserta dari
berbagai jenjang pendidikan ini memperlihatkan bahwa pelestarian bahasa dan
sastra Bali tidak hanya menjadi tanggung jawab pelajar, tetapi juga mendapat
perhatian serius dari kalangan akademisi.
Pelaksanaan audisi
berlangsung setiap hari mulai pukul 09.00 WITA dengan jadwal yang telah disusun
berjenjang. Hari pertama, Rabu (6/5/2026), diawali dengan kategori tingkat
Sekolah Dasar (SD) yang diikuti oleh 18 sekolah terbaik dari seluruh
kabupaten/kota. Selanjutnya, audisi berlanjut ke jenjang SMP, SMA, hingga
perguruan tinggi pada hari-hari berikutnya, sebelum mencapai puncaknya pada babak
final.
Babak final berlangsung
pada Sabtu (10/5/2026) yang akan menjadi momen penentuan sekaligus puncak dari
rangkaian kegiatan ini.
Para peserta terbaik
akan menampilkan kemampuan terbaik mereka dalam bidang sastra Bali, sekaligus
menunjukkan kualitas generasi muda dalam menjaga identitas budaya daerah.
UWS Bali bukan sekadar
kompetisi, melainkan juga ruang pembelajaran yang mendorong peserta untuk
berpikir kritis, kreatif, serta memiliki kecintaan mendalam terhadap budaya
lokal. Kegiatan ini selaras dengan semangat Bung Karno yang menekankan
pentingnya berkepribadian dalam kebudayaan.
Lebih dari itu, ajang
ini juga menjadi bukti bahwa budaya dapat dikemas secara modern, menarik, dan
kompetitif. Generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku
utama dalam menjaga eksistensi bahasa dan sastra Bali. (lan)
