Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana (tengah) ketika hendak membuka The Meru Eco Tourism Week 4th Edition di Bali Beach Convention Center, Sanur, Sabtu (30/5/2026) (Foto: lan)
DENPASAR,
PERSPECTIVESNEWS – Accelerating Consumer Transformation and Sustainability
in Indonesia (ACTI) Project dan Eco Tourism Bali mengumumkan kerja sama
strategis untuk mempercepat transformasi pariwisata regeneratif di Bali.
Kerja sama kedua pihak berlangsung selama empat tahun ke
depan terhitung mulai tahun 2026 hingga 2029, yang diumumkan saat
dilaksanakannya event tahunan The Meru Eco Tourism Week 4th Edition di Bali
Beach Convention Center, Sanur, yang dibuka Menteri Pariwisata RI Widiyanti
Putri Wardhana, Sabtu (30/5/2026).
ACTI Project merupakan konsorsium terdiri dari Rainforest
Alliance, SCOPI (Sustainable Coffee Platform Indonesia) dan CSP (Cocoa
Sustainability Partnership).
Program ini didukung oleh Uni Eropa melalui SWITCH-Asia,
sebuah program Uni Eropa yang mendorong sustainable consumption and production
(SCP) di 42 negara di Asia, Timur Tengah, dan Pasifik.
Melalui kolaborasi ini, ACTI Project dan Eco Tourism Bali
berkomitmen untuk mendorong adopsi praktik sustainable sourcing secara
konsisten di sektor pariwisata, khususnya hotel, restoran, dan kafe di Bali
serta Yogyakarta.
Co-Founder Eco Tourism Bali Rahmi Fajar Harini, mengatakan
pariwisata regeneratif tidak dapat dibangun hanya dari operasional hotel atau
destinasi. Transformasi harus dimulai dari rantai pasok yang lebih bertanggung
jawab, sehingga setiap produk yang dikonsumsi wisatawan juga memberikan manfaat
bagi alam, petani, dan komunitas lokal.
“Melalui kolaborasi ini, ACTI Project dan Eco Tourism Bali
berharap Bali dapat terus berkembang sebagai destinasi yang tidak hanya unggul
secara pariwisata, tetapi juga menjadi contoh global dalam implementasi
pariwisata regeneratif dan nature-positive tourism,” ujar Rahmi Fajar Harini.
Fokus utama kolaborasi ini mencakup penguatan praktik
konsumsi dan rantai pasok berkelanjutan untuk komoditas seperti kopi, kakao,
teh, dan minyak sawit dalam industri hospitality dan tourism.
Kerja sama ini juga menekankan pentingnya responsible
production, yaitu memastikan komoditas tidak diproduksi di kawasan yang rentan
terhadap deforestasi maupun di sekitar habitat spesies yang terancam punah.
Di saat yang sama, pendekatan yang dijalankan tetap
menempatkan masyarakat dan komunitas lokal sebagai bagian utama dalam
transformasi menuju industri pariwisata yang lebih bertanggung jawab.
Sebagai platform yang aktif mendorong transformasi
pariwisata berkelanjutan dan regeneratif di Bali, Eco Tourism Bali melihat
kolaborasi lintas sektor sebagai langkah strategis dalam mempercepat
implementasi nature-positive tourism dan regenerative tourism di Indonesia.
Sementara itu, ACTI Project hadir sebagai mitra strategis
yang memiliki visi sejalan dalam memperkuat praktik sustainability, responsible
sourcing, serta kolaborasi jangka panjang yang mampu memberikan dampak nyata
bagi lingkungan, komunitas lokal, dan masa depan industri pariwisata Indonesia.
Kerja sama empat tahun ini akan mencakup berbagai program
dan inisiatif, di antaranya: Pengembangan program pariwisata regeneratif,
Kampanye edukasi dan awareness terkait sustainability, Capacity building bagi
sektor hospitality dan pariwisata, Kolaborasi program lingkungan dan sosial,
Dukungan terhadap implementasi sustainability framework dan climate action,
Aktivasi bersama dalam rangkaian Eco Tourism Week hingga tahun 2029.
Sementara Manager Consumer Campaign and Engagement
Rainforest Alliance dan juga Team Lead ACTI Project, Margareth Meutia,
mengatakan, hasil riset internal ACTI Project menyatakan sebanyak 92% konsumen
di Bali dan Yogyakarta memiliki kesadaran yang kuat mengenai isu lingkungan.
“Sejalan dengan bertumbuhnya permintaan konsumen akan produk
berkelanjutan, kerja sama kami dengan Eco Tourism Bali merupakan langkah
penting dalam mempromosikan adopsi yang konsisten terkait konsumsi kopi,
cokelat, teh, dan kelapa sawit berkelanjutan,” katanya.
Melalui inisiatif ini, pihaknya memiliki tujuan untuk
mengakselerasi adopsi praktik konsumsi berkelanjutan di sektor pariwisata,
termasuk hotel, restoran, dan kafe. Pendekatan pihaknya adalah memprioritaskan
produksi bertanggung jawab dengan memastikan bahwa komoditas tidak ditanam di
area rawan deforestasi atau dekat dengan habitat satwa liar.
“Inti dari proyek kami adalah masyarakat dan komunitas. Kami
terus berkomitmen untuk meningkatkan penghidupan petani dengan mendukung
pendapatan yang setara dan seimbang, baik bagi laki-laki dan perempuan, serta
memperjuangkan hak anak-anak untuk menikmati masa kecilnya dengan aman,” kata
Margareth Meutia.
General Manager The Meru Sanur, Ed Brea, mengatakan
keterlibatan The Meru Sanur sebagai tuan rumah merupakan bentuk dukungan nyata
terhadap pengembangan pariwisata berkelanjutan di Bali.
Ia menilai kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan
komunitas menjadi kunci untuk menciptakan industri pariwisata yang mampu
memberikan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan lingkungan maupun budaya lokal.
Ed juga menyoroti perkembangan Sanur sebagai bagian dari
kawasan Kawasan Ekonomi Khusus Kesehatan Sanur yang mengintegrasikan sektor
kesehatan, wellness, pariwisata, budaya, dan pelestarian lingkungan dalam satu
ekosistem.
Menurutnya, model tersebut dapat menjadi contoh bagaimana
pembangunan dan keberlanjutan dapat berjalan secara seimbang. (lan)
