Perajin tedung, Anak Agung Gede Anom Suwastika mengaku usaha yang kini ditekuninya merupakan warisan keluarga dan dibantu pembiayaannya oleh KUR BRI. (Foto: BRI)
SEMARAPURA, PERSPECTIVESNEWS- Usaha pembuatan tedung upacara di kawasan Puri Satria Kanginan, Paksebali, Klungkung tetap bertahan. Meski sulitnya mendapatkan bahan baku dan tenaga kerja, namun nyatanya usaha ini tetap mampu bertahan.
Salah satu perajin tedung, Anak Agung Gede Anom Suwastika,
mengaku usaha yang kini ditekuninya merupakan warisan keluarga yang sudah
dijalani sejak kecil.
Pria berusia 56 tahun itu sebelumnya bekerja di sektor
perhotelan. Setelah pensiun sekitar empat tahun lalu, ia kembali melanjutkan
usaha tedung milik ibunya yang telah lebih dulu dirintis keluarga.
“Dari kecil memang sudah lihat ibu membuat tedung. Jadi
basic-nya memang dari keluarga,” ujarnya.
Di rumah produksinya di lingkungan puri, proses pengerjaan
tedung kini lebih banyak berfokus pada tahap menjarit dan merangkai. Sementara
sebagian bahan dan rangka sudah disiapkan oleh pekerja lain.
Dalam sehari, dirinya mampu memproduksi sekitar 20 tedung
ukuran satu meter. Saat permintaan meningkat menjelang Hari Raya Galungan,
jumlah produksi bisa melonjak hingga 40 sampai 50 tedung per hari.
“Kalau mendekati Galungan biasanya kewalahan karena
permintaan naik terus. Kadang terkendala bahan baku,” katanya.
Tedung yang diproduksi memiliki beberapa ukuran, mulai dari
90 sentimeter, satu meter, hingga satu seperempat meter. Harga jualnya
bervariasi, mulai Rp65 ribu untuk ukuran 90 sentimeter halus, Rp85 ribu ukuran
satu meter, hingga Rp125 ribu ukuran satu seperempat meter.
Menurutnya, jenis tedung paling diminati pembeli ialah
ukuran satu meter dengan kualitas halus. Selain model standar, pihaknya juga
membuat tedung agung dengan ornamen lebih rumit, meski pengerjaannya
membutuhkan waktu lebih lama dan tidak semua perajin mampu mengerjakannya.
Permintaan tedung tersebut dipasarkan ke sejumlah pasar
tradisional di Denpasar dan sekitarnya seperti Pasar Sanglah hingga Pasar
Kreneng dan Pasar Kumbasari. Dalam kondisi normal, pesanan dapat mencapai
sekitar 200 tedung setiap dua hingga tiga minggu. Jumlah itu bisa meningkat dua
kali lipat saat musim hari raya.
Kesulitan utama yang dihadapi para perajin ialah mencari
bahan baku, terutama kayu dan bambu untuk rangka tedung. Kayu yang digunakan
umumnya berasal dari pohon buah seperti durian dan wani. “Kalau musim hujan
lebih susah lagi cari bahan,” ujarnya.
Usaha tedung di kawasan Puri Satria Kanginan sendiri
dilakoni cukup banyak warga. Tercatat sekitar 20 pelaku usaha tergabung dalam
Klaster Tedung Paksebali. Selain tedung, sebagian warga juga memproduksi prada
dan ider-ider kebutuhan upacara adat Bali.
Untuk memperkuat permodalan usaha, Suwastika memanfaatkan
Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI sebesar Rp100 juta. Dana tersebut dipakai
untuk menambah stok bahan baku agar produksi tetap berjalan saat permintaan
meningkat.
“Bantuan KUR sangat membantu untuk modal beli bahan dulu
sebelum diputar kembali,” katanya.
Selain pembiayaan, digitalisasi layanan perbankan juga mulai
mendukung aktivitas usaha para perajin. Saat ini sebagian besar transaksi
pembayaran dengan pelanggan dilakukan melalui transfer menggunakan aplikasi
BRImo.
Menurut Suwastika, pembayaran digital mempermudah transaksi
karena pembeli sering melakukan pembayaran sebagian terlebih dahulu sebelum
barang dikirim.
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya,
mengatakan BRI terus mendorong tradisi ekonomi masyarakat seperti usaha
pembuatan tedung agar tetap berkembang di Bali.
“Melihat potensi permintaan yang selalu ada, terutama di
Bali, aktivitas ekonomi seperti ini harus terus didorong karena mampu
menggerakkan ekonomi kerakyatan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran layanan digital seperti BRImo juga
membantu pelaku usaha dalam melakukan transaksi pembayaran, pembelian bahan
baku, hingga pencatatan keuangan usaha.
Menurutnya, penggunaan mobile banking menjadi kebutuhan
penting di tengah perkembangan digitalisasi karena sebagian besar pelanggan
kini sudah menggunakan transaksi non tunai.
“Dengan catatan transaksi yang lebih rapi, pelaku usaha
nantinya juga lebih mudah mengakses kredit perbankan,” katanya. (*)
