Petugas Medikvet Kecamatan Negara melakukan pengambilan sampel otak anjing yang diduga terjangkit rabies, setelah menggigit tiga korban di Banjar Tangi, Desa Tegal Badeng Timur, Kecamatan Negara, Jembrana, Selasa (16/6/2026). (Foto: dik/perspectives)
JEMBRANA, PERSPECTIVESNEWS- Kasus dugaan rabies
kembali meresahkan warga Jembrana. Seekor anjing yang diduga kuat terjangkit
virus mematikan tersebut menyerang tiga warga di Banjar Tangi, Desa Tegal
Badeng Timur, Kecamatan Negara.
Guna memastikan ancaman tersebut, petugas medik veteriner
langsung bergerak cepat mengambil sampel otak anjing yang dilaporkan mati
mendadak itu.
Petugas Medikvet Kecamatan Negara, drh. I Putu Hendra Jaya
Agus, mengatakan bahwa pengambilan sampel dilakukan pada Selasa (16/6/2026)
untuk kemudian diuji di Laboratorium Balai Besar Veteriner (BB Vet) Denpasar.
“Dari ciri-ciri kasus gigitan dan fakta bahwa anjing
tersebut mati sendiri setelah menyerang korban, indikasi kuat mengarah ke
suspect rabies. Kami masih menunggu hasil lab untuk kepastiannya,” ujar Putu
Hendra, Rabu (17/6/2026).
Anjing jantan berwarna coklat berusia sekitar 3 tahun
tersebut diketahui merupakan hewan peliharaan yang ditelantarkan oleh
pemiliknya yang tinggal di desa lain.
Sebelum ditemukan mati, anjing ini sempat meneror warga dan
melukai tiga orang, dua di antaranya adalah balita.
Kejadian bermula pada Minggu (14/6/2026), anjing menyerang
Husein (5) hingga mengalami luka robek dan berdarah pada paha kanannya.
Berdasarkan keterangan warga, bocah malang tersebut bahkan baru saja menjalani
prosesi khitanan.
Pada hari yang sama, anjing juga menyerang Nara (4), namun
beruntung tidak sampai menimbulkan luka fisik.
Kemudian pada Senin (15/6/2026) malam, teror berlanjut saat
warga menggelar acara syukuran malam Satu Suro di Gang Semar. Korban Sodikun
(47), salah seorang warga dewasa, mendadak diserang dari belakang saat sedang
mengobrol.
"Anjing itu tiba-tiba menggigit kaki saya dari
belakang. Saat diusir, dia malah menyerang lagi sampai akhirnya saya lempar
batu baru dia lari," kenang Sodikun saat ditemui Selasa (16/6/2026). Meski
tidak sampai berdarah, gigitan tersebut menyebabkan kakinya lebam dan bengkak.
Misteri perilaku agresif anjing tersebut terjawab pada
Selasa (16/6/2026) pagi, saat warga menemukan hewan itu sudah terbujur kaku di
pinggir jalan, tidak jauh dari lokasi penyerangan.
Mengetahui anjing yang menggigitnya mati secara mendadak,
yang menjadi salah satu ciri utama gejala rabies, Sodikun langsung bergegas ke
Puskesmas terdekat untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) dan melaporkan
kejadian ini ke pihak berwenang.
Setelah petugas mengambil sampel bagian otak, bangkai
anjing tersebut langsung dikuburkan oleh Sodikun bersama warga sekitar demi
mencegah potensi penularan virus lebih lanjut ke lingkungan domestik. (dik)
