Perspectives News

Raih Gelar Doktor Pariwisata, Trisno Nugroho Jabarkan Model REGENESIS untuk Selamatkan Penglipuran dari 'Overtourism'


Trisno Nugroho bersama Tim Penguji usai  mengikuti ujian Terbuka Promosi Doktor di Gedung Aula Pascasarjana Kampus Unud Sudirman, Denpasar, Selasa (11/8). (Foto: ist/perspectivesnews) 

DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS — Mantan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali yang kini menjabat sebagai Komisaris PT Bali Ocean Magic (Waterbom Bali), Trisno Nugroho, resmi meraih gelar Doktor Pariwisata dari Universitas Udayana (Unud). Gelar tersebut diraih usai menjalani Sidang Khusus Ujian Terbuka Promosi Doktor di Gedung Aula Pascasarjana Kampus Unud Sudirman, Denpasar, Selasa (11/8/2026).

Trisno dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan dan tercatat sebagai alumni doktor pariwisata Unud yang ke-157. Dalam ujian yang diselenggarakan Fakultas Pariwisata Unud di bawah koordinasi Dr. I Nyoman Sunarta tersebut, Trisno Nugroho berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Model Pengembangan Pariwisata Regeneratif di Desa Wisata Penglipuran Kabupaten Bangli Provinsi Bali”.

Penelitian Trisno Nugroho berangkat dari sebuah paradoks yang dialami Desa Wisata Penglipuran. Sebagai desa adat unik dengan sekitar 78 rumah tradisional dan kawasan hutan bambu, Penglipuran menjadi magnet pariwisata global di antara lebih dari 246 desa wisata di Bali. Keberhasilan tersebut menghasilkan manfaat ekonomi besar, namun di saat yang sama memicu ancaman nyata overtourism—seperti masalah sampah, lonjakan kapasitas kunjungan, potensi pencemaran, tekanan sosial budaya, hingga penataan kawasan hutan bambu yang belum optimal.

Atas temuan tersebut, Trisno Nugroho menilai keberhasilan desa wisata tidak cukup diukur dari popularitas atau jumlah wisatawan, melainkan kemampuan masyarakat menjaga keseimbangan ekologis, sosial, budaya, dan ekonomi. Untuk membawa Penglipuran keluar dari potensi stagnasi menuju fase rejuvenation (peremajaan destinasi), ia merumuskan solusi berbasis restorasi sosial-ekologis bernama Model REGENESIS.

Model REGENESIS ini dibangun melalui enam pilar utama yang bekerja secara terpadu: restorative, geo-ecological, net-positive, socio-cultural, integration, dan system. Pendekatan ini diarahkan untuk memelihara daya dukung lingkungan, menciptakan dampak positif bersih, menguatkan masyarakat dan budaya lokal, serta membangun tata kelola pariwisata yang terintegrasi dan kolaboratif.

"Pendekatan regeneratif berbeda dari sekadar mempertahankan kondisi destinasi. Penelitian ini menempatkan restorasi dan pembaruan sebagai bagian dari transformasi destinasi," ujar Trisno.

Ia menjelaskan bahwa konsep pariwisata regeneratif merupakan langkah progresif yang melampaui prinsip keberlanjutan biasa (beyond sustainability). Menurutnya, pariwisata tidak boleh hanya berfokus pada kejar target jumlah kunjungan wisatawan semata, melainkan pada dampak positif yang ditinggalkan.

"Secara singkat, pariwisata regeneratif ini adalah beyond sustainability. Kalau sustainability itu menjaga agar tidak rusak. Kalau regeneratif, membuat nilai positif dari kedatangan wisatawan, baik dengan menanam pohon, membeli suvenir, maupun menjaga lingkungan agar menjadi lebih baik lagi," jelasnya.

Melalui pendekatan ini, posisi masyarakat diubah dari sekadar objek atau penerima manfaat ekonomi menjadi subjek utama dan bagian penting dari proses transformasi destinasi. Trisno Nugroho menegaskan bahwa keterlibatan dan pemahaman pemangku adat serta warga lokal merupakan fondasi vital agar Penglipuran terhindar dari konflik sosial akibat gelombang wisatawan.

"Masyarakat adalah subjeknya. Mereka yang tahu sejarah, asal-usul, adat, dan gotong royongnya. Kita dari luar tidak bisa mengintervensi, tetapi memberikan pemahaman. Kita tidak ingin masyarakat Penglipuran tersingkir dan tidak menikmati hasilnya seperti yang terjadi di Venesia atau Barcelona," tegas Trisno Nugroho. 

Melalui penerapan Model Pengembangan Pariwisata Regeneratif, Desa Wisata Penglipuran diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan nilai kebudayaan dan kelestarian lingkungannya, tetapi juga terus memulihkan ekosistem serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal secara berkesinambungan. (*) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama