Jadi Destinasi Wisata Sungai Populer, Pengelolaan Tukad Bindu Libatkan Masyarakat dan Media Sosial

Dosen Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana sekaligus praktisi pertanian organik, Ni Wayan Sri Sutari, SP, MP, (kanan) saat berinteraksi dengan salah satu peserta Bimtek. (Foto: perspectives)

BADUNG, PERSPECTIVESNEWS- Tukad Bindu yang berlokasi di Jl. Turi No.68a, Kesiman, Kec. Denpasar Timur, Kota Denpasar menjadi contoh terbaik pengelolaan lingkungan hidup yang ajeg dan berkelanjutan. Tukad Bindu telah menjadi sungai rekreasi yang makin popular.

Mengutip informasi tentang sungai terbersih di Kota Denpasar ini, Tukad Bindu merupakan salah satu destinasi wisata sungai di Kota Denpasar dan dilengkapi playground yang ramah anak, dikelola oleh komunitas Yayasan Tukad Bindu.

Anak-anak dapat bermain air dan berenang di area sungai yang bersih. Pengunjung juga bisa memanfaatkan fasilitas olahraga yang tersedia dan jogging track. Udara yang segar dan alami menambah atmosfer yang menyenangkan di kawasan sekitar sungai. 

Selain sebagai tempat rekreasi, Tukad Bindu juga dikembangkan menjadi sarana edukasi lingkungan. Beberapa sekolah perguruan tinggi memanfaatkan kawasan Tukad Bindu sebagai Laboratorium Pertanian dan Pembangkit Listrik Tenaga Hidro Mikro. Pengunjung dapat mendapat ilmu pengetahuan seputar lingkungan di Tukad Bindu.

Tukad Bindu kini juga dilengkapi dengan Co-Working Space. Fasilitas wi-fi gratis disediakan guna memberi wadah dan ruang bagi generasi milenial maupun masyarakat sebagai tempat bertukar pikiran sembari menikmati alam. Pengunjung juga bisa bersantai di tepian sungai sambil menikmati sajian kudapan dengan harga terjangkau.

Taman rekreasi di Tukad Bindu dapat disulap menjadi wedding venue yang menarik dan unik. Beberapa sudut kawasan Tukad Bindu dijadikan spot foto yang asyik untuk para tamu. Salah satu spot foto favorit di sini adalah jembatan yang diapit rangkaian bambu menjulang tinggi dan latar belakang akar tanaman yang merambat di dinding bantaran Tukad Bindu.

Libatkan Masyarakat dan Media Sosial

Pengelolaan lingkungan hidup perlu melibatkan masyarakat secara aktif, tidak hanya dalam kegiatan bersih sungai, tetapi juga dalam menyebarluaskan pesan pelestarian lingkungan melalui komunikasi dari mulut ke mulut maupun media sosial.

Bimbingan teknis (Bimtek) bertema ‘Peningkatan Kapasitas dan Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup di Provinsi Bali’ berlangsung selama 2 hari (16/9 -17/9), mengangkat materi tentang Tukad Bindu dan melibatkan akademisi dari Unud. Bimtek digelar di Hotel Ramada Bali Sunset Road, Kuta, Badung, Rabu (16/9/2026) malam.

Dosen Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana sekaligus praktisi pertanian organik, Ni Wayan Sri Sutari, SP, MP, mengatakan, masyarakat yang selama ini akrab dan sering beraktivitas di kawasan sungai dapat menjadi bagian dari promosi lingkungan secara alami selain melibatkan media sosial.

Menurutnya, kawasan sungai yang telah tertata dan dilengkapi berbagai fasilitas, seperti tempat menikmati kopi dan arena bermain anak, memiliki potensi untuk diperkenalkan lebih luas dengan melibatkan masyarakat sekitar.

“Kalau kawasan sungai sudah tertata, ada kafe, kopi serta arena bermain anak, tentu bisa dipromosikan dengan melibatkan warga dari mulut ke mulut maupun melalui media sosial masing-masing,” ujar Sri Sutari.

Dikatakan, promosi kegiatan lingkungan tidak harus dilakukan secara formal. Warga, termasuk kelompok ibu-ibu, dapat menjadi penyampai informasi sekaligus penggerak perubahan perilaku masyarakat.

Selain memperkuat komunikasi lingkungan, Bimtek tersebut juga menjadi ruang membangun jejaring antarpeserta. Relasi yang terbentuk diharapkan dapat berlanjut menjadi kerja sama dalam pengelolaan lingkungan.

“Dengan diadakannya Bimtek maka terjalin networking antara peserta sehingga ke depan ada jalinan relasi dan hubungan berkesinambungan. Harapannya, pesan untuk tidak membuang sampah di sungai semakin teredukasi kepada masyarakat,” katanya.

Peserta didorong membuat foto maupun video yang memiliki alur cerita, bukan sekadar dokumentasi. Materi visual tersebut dapat digunakan untuk mempromosikan kegiatan lingkungan sebelum, saat maupun setelah aksi dilakukan.

Dengan demikian, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi dapat berkembang menjadi relawan, mitra maupun pendukung gerakan pengelolaan lingkungan hidup. (lan)



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama