Tukad Bindu Dikembangkan dengan Konsep Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

 

Koordinator Penasihat Yayasan Tukad Bindu, I Gusti Rai Ari Temaja (tengah) saat memberikan sambutan pada Bimtek di Hotel Ramada Bali Sunset Road, Kuta, Badung, Rabu (16/9/2026) malam. (Foto: perspectives)

DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS- Koordinator Penasihat Yayasan Tukad Bindu, I Gusti Rai Ari Temaja (Gung Nik) mengatakan, pengelolaan lingkungan membutuhkan kesepahaman berbagai pihak.

Menurut pria yang akrab disapa Gung Nik ini, dengan adanya kegiatan Bimtek (bimbingan teknis) menjadi momentum untuk menata pola komunikasi sekaligus mempertemukan berbagai unsur dalam konsep pentahelix.

Gung Nik juga mengingatkan masyarakat untuk senantiasa kembali kepada jati diri, eling, serta berbakti kepada pertiwi.

“Bimtek ini merupakan kegiatan spontan untuk tujuan menata pola komunikasi. Diharapkan ada titik temu kesepahaman antara pentahelix tentang lingkungan,” katanya dalam Bimtek yang digelar selama 2 hari (16/9 – 17/9), di Hotel Ramada Bali Sunset Road, Kuta, Badung, Rabu (16/9/2026) malam.

Bimtek dengan tema ‘Peningkatan Kapasitas dan Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup di Provinsi Bali’ itu juga melibatkan pihak akademisi dari Universitas Udayana, Yayasan serta warga masyarakat sekitar Tukad Bindu dan media.

Dia mencontohkan, Tukad Bindu sebagai model pengelolaan sungai berbasis masyarakat dan tidak berhenti pada upaya membuat sungai bersih, tetapi dilakukan secara ajeg dan berkesinambungan dengan memberdayakan masyarakat.

“Rata-rata sungai di kota itu tercemar, kumuh dan tidak terawat. Namun, hal berbeda terlihat di Tukad Bindu karena di masyarakat telah tertanam tanggung jawab,” ujarnya.

Menurut Gung Nik, setelah sungai berhasil dibersihkan, muncul pertanyaan mengenai bagaimana kawasan tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Dari sanalah kemudian dikembangkan konsep pemberdayaan ekonomi yang berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan.

“Setelah sungai bersih, mau diapakan? Jawabannya pemberdayaan ekonomi. Jadi prinsip Tukad Bindu adalah menyejahterakan masyarakat seutuhnya. Dari sisi ekonomi, sosial, budaya, edukasi, semuanya masuk di sana,” katanya.

Pengalaman Tukad Bindu tersebut bahkan mulai menjadi inspirasi bagi pengelolaan sejumlah sungai lainnya di Bali. Pendekatan yang dikembangkan disebut telah direplikasi di sedikitnya empat ruas sungai.

Menurut Gung Nik lagi, keberadaan sungai yang tertata dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

“Tukad Bindu menunjukkan bahwa ketika masyarakat ikut memiliki dan menjaga sungai, kawasan ini bisa berkembang bukan hanya sebagai tempat yang bersih, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar, beraktivitas dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Pengunjung juga dapat bersantai di tepian sungai sembari menikmati kudapan. Sejumlah sudut kawasan dimanfaatkan sebagai ruang kegiatan dan lokasi foto dengan suasana alami.

Menurut Ari Sudewa, pengalaman Tukad Bindu memperlihatkan bahwa sungai tidak semata-mata berfungsi sebagai saluran air. Dengan keterlibatan masyarakat, sungai dapat berkembang menjadi ruang edukasi, rekreasi, interaksi sosial sekaligus pemberdayaan ekonomi.

Bimtek tersebut diharapkan semakin memperkuat kapasitas masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus menyampaikan pesan pelestarian melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk media sosial. Dengan jejaring antarpihak dan keterlibatan masyarakat, gerakan menjaga sungai diharapkan dapat berlangsung secara berkelanjutan. (lan)

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama