Dampak BBM Langka, Kunjungan Pedagang Pasar Negara Lesu

 

Ketut Asih, salah seorang pedagang sembako di Pasar Umum Negara, Senin (19/10/2026). (Foto: dik/Perspectives).

​JEMBRANA, PERSPECTIVESNEWS- Kendati pasokan sembako dan bahan pokok di wilayah Kabupaten Jembrana dipastikan aman, krisis kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melanda Bali selama sepekan terakhir mulai memukul denyut nadi perekonomian warga. Di Pasar Umum Negara, pusat perdagangan terbesar di Jembrana, aktivitas jual-beli mendadak lesu akibat merosotnya mobilitas masyarakat.

​Hasil pantauan di lapangan pada Senin (19/10/2026) menunjukkan harga mayoritas kebutuhan pokok relatif stabil. Minyak goreng berada di kisaran Rp23.000 per liter, beras Rp17.000 per kilogram, cabai rawit Rp55.000 per kilogram, bawang putih Rp30.000 per kilogram, dan telur ayam Rp1.500–Rp2.000 per butir. Bahkan, harga daging ayam potong justru melandai dari Rp43.000 menjadi Rp36.000 per kilogram.

​Alur distribusi pasokan sembako maupun sayuran dari daerah penghasil pun dilaporkan tetap berjalan lancar. Namun, stabilnya harga dan melimpahnya stok barang tak lantas menggairahkan pasar. Imbas sulitnya mendapatkan BBM, tingkat kunjungan konsumen ke Pasar Umum Negara anjlok drastis hingga 50 persen.

​"Harga sembako belum ada peningkatan dan pasokan barang masih normal. Cuma pembelinya saja yang sepi, berkurang sampai 50 persen dari biasanya," ungkap Ketut Asih, salah seorang pedagang sembako di lokasi.

​Dampak domino ini juga dirasakan para pedagang daging. Ni Kadek Astriadi, pedagang daging ayam setempat, menyebut sepinya pembeli tak hanya dari kalangan rumah tangga, melainkan juga para pelaku UMKM kuliner yang terpaksa meliburkan usahanya.

​"Langganan banyak yang libur berjualan karena tidak dapat BBM. Kunjungan pembeli ke pasar jadi sepi sekali," kata Astriadi.

​Penurunan drastis jumlah pengunjung secara otomatis memangkas omzet harian para pedagang hingga lebih dari separuh. Kini, para pedagang di Pasar Umum Negara menaruh harapan besar agar krisis BBM dapat segera teratasi dan kembali normal sehingga aktivitas pasar tradisional kembali bergairah. (dik)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama