Sagung Antari Jaya Negara Dorong Perempuan Tingkatkan Kapasitas Diri Lewat Literasi


Bunda Literasi Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara saat menjadi Narasumber kegiatan Bincang Literasi Perempuan yang dilaksanakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Denpasar di Ruang Audio Visual Gedung Dharma Negara Alaya Denpasar, Jumat (2/10). (HumasDps)

DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS – Bunda Literasi Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara mengajak para perempuan untuk terus meningkatkan kemampuan literasi sebagai bekal utama dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan perkotaan. Penekanan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Bincang Literasi Perempuan bertajuk "Perempuan Literat, Denpasar Berdaya" yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Denpasar dalam rangka Gebyar Literasi Denpasar Tahun 2026 di Ruang Audio Visual Gedung Dharma Negara Alaya Denpasar, Jumat (2/10).

Mengangkat tema "Apa yang Dibaca, Apa yang Ditulis, Apa yang Dilakukan", forum ini dihadirkan sebagai ruang berbagi pengalaman mengenai krusialnya literasi bagi perempuan. Literasi di sini dimaknai tidak sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan pemahaman terhadap informasi, pengambilan keputusan, peningkatan kapasitas diri, hingga kontribusi nyata di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Dalam pemaparannya, Ny. Sagung Antari Jaya Negara mengungkapkan bahwa pengalaman terjun langsung ke tengah masyarakat menjadi proses pembelajaran yang sangat berharga. Menurutnya, dinamika permasalahan di lapangan menuntut pemahaman yang tepat sebelum menentukan tindakan.

"Saya tahu dari mengerjakan sesuatu, sama seperti ketika kita terjun ke masyarakat. Dari sana kita melihat berbagai persoalan. Saya tidak selalu belajar dari teori, tetapi melihat kasus-kasus yang ada di masyarakat. Dari situ kita belajar bahwa setiap kasus berbeda dan harus disikapi dengan cara yang tepat," ujarnya.

Ia mencontohkan penanganan pada anak penyandang disabilitas, di mana pemahaman mendalam atas kondisi dan kebutuhan spesifik setiap anak menjadi syarat mutlak agar intervensi bantuan yang disalurkan benar-benar tepat sasaran. Pengalaman tersebut juga mengajarkannya untuk senantiasa bersyukur sekaligus memahami formulasi langkah yang presisi saat menemukan permasalahan di lapangan.

"Saya bertanya kepada Dinas Sosial, apa yang bisa dibantu oleh Pemerintah Kota. Dari sana saya mendapatkan arahan. Jadi bukan saya yang membantu semuanya, saya hanya membantu membuka jalan. Selanjutnya perangkat daerah memberikan arahan mengenai apa yang bisa dibantu. Dari sana saya juga belajar," jelasnya.

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa menjalankan multiperan sebagai perempuan tidak cukup hanya berbekal pengalaman empiris. Budaya membaca dan belajar tetap menjadi fondasi penting untuk memperluas cakrawala berpikir.

"Menjadi perempuan super tidak harus selalu membaca teori, tetapi idealnya kita harus membaca. Dari membaca kita menjadi tahu dan bisa melakukan sesuatu dengan benar. Apa yang kita lihat di masyarakat bisa kita selesaikan dengan lebih tepat," katanya.

Lebih jauh, Ny. Sagung Antari Jaya Negara menyoroti bahwa pembangunan sebuah kota tidak hanya diukur dari megahnya gedung, pusat perbelanjaan, atau jaringan jalan, melainkan dari kualitas manusia di dalamnya. Dalam konteks ini, perempuan memegang peranan sentral sebagai benih pertama penyemai literasi dalam keluarga.

Transformasi literasi perempuan mencakup penguasaan informasi, pemanfaatan teknologi, peningkatan keterampilan, hingga pengaktualan potensi diri menuju kemandirian.

"Dari membaca menjadi berdaya. Literasi akan terasa manfaatnya ketika pengetahuan yang kita miliki dapat dihubungkan dengan kesejahteraan," ungkapnya.

Menghadapi kompleksitas tuntutan era modern, perempuan dituntut tampil profesional di dunia kerja, piawai mengelola keuangan keluarga, menjadi pendidik dan penjaga moral anak, sekaligus aktif dalam kegiatan adat serta sosial. Mengingat beragam peran tersebut berpotensi menguras energi fisik dan mental, ketersediaan ruang untuk belajar, membaca, serta merawat kapasitas diri menjadi sebuah kebutuhan mendesak.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya pendokumentasian rekam jejak perjalanan perempuan mulai dari lahir, menikah, mengelola keluarga, hingga usia lanjut, termasuk kontribusinya dalam seni dan buday, sebagai khazanah pengetahuan berharga bagi generasi mendatang.

Menutup pemaparannya, Ny. Sagung Antari Jaya Negara menegaskan bahwa perempuan yang berliterasi tidak hanya mencerdaskan dirinya sendiri, tetapi juga memberi dampak luas bagi keluarga dan lingkungan. Ia pun mengutip pepatah bijak, "Jika kamu mendidik seorang pria, kamu mendidik seorang individu. Namun jika kamu mendidik seorang perempuan, kamu mendidik sebuah bangsa."

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Denpasar, Cokorda Gede Partha Sudarsana menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas arahan Bunda Literasi Kota Denpasar yang dinilainya berhasil membuka wawasan masyarakat mengenai literasi praktis sehari-hari.

Untuk memperkaya diskursus, panitia turut menghadirkan jajaran pakar dari berbagai bidang sebagai narasumber, antara lain: Nyoman Wirayuni, S.H., M.M. dan Prof. Dr. Ni Wayan Widhiasthini, S.Sos., M.Si. (Wakil Rektor Akademik Undiknas University) yang membawakan materi "Perempuan Literat Denpasar Berdaya: Aksi Nyata" serta "Urgensi Literasi Digital Menciptakan Ruang Aman bagi Perempuan".

Sementara itu, Prof. Dr. Kadek Aria Prima Dewi, P.F., S.Ag., M.Pd. (Direktur Pascasarjana Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja), menyajikan materi "Perempuan Membaca, Menulis, dan Menggerakkan".

Melalui penyelenggaraan kegiatan ini, para perempuan Denpasar diharapkan semakin terpacu untuk terus membaca, belajar, berkarya, serta mengambil peran strategis di masyarakat. Semangat literasi ini sejalan dengan arah tema Gebyar Literasi Tahun 2026 dalam mewujudkan masyarakat berpengetahuan dan sejahtera, sekaligus menyokong visi Pemkot Denpasar menuju Denpasar Maju (Makmur, Aman, Jujur, dan Unggul). (HumasDps/Ayu)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama