DENPASAR,
PERSPECTIVESNEWS - Coffee Morning Flobamora Bali menjadi ruang refleksi
bersama bagi diaspora Nusa Tenggara Timur (NTT) di Bali dalam menutup tahun
2025 dan menatap 2026. Diskusi berlangsung ringan, namun menyentuh substansi
persoalan penting, terutama soal stigma, data kependudukan, dan martabat
diaspora.
Wakil Sekretaris Ikatan Keluarga Sumba di Bali, Kristoforus
Lero, menegaskan bahwa stigma negatif terhadap warga NTT di Bali telah meluas.
Stigma tersebut tidak lagi berhenti pada soal tercatat atau tidaknya warga
dalam data organisasi, tetapi telah menyentuh identitas dan martabat diaspora.
“Dampaknya nyata dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari
keterbatasan akses hunian hingga relasi sosial. Tujuan kita bukan membela atau
menyalahkan, melainkan meluruskan konteks,” ujarnya.
Sekretaris Umum Flobamora Bali, Varis Wangge, memaparkan
bahwa estimasi populasi diaspora NTT di Bali pada 2025 berkisar 70.000 jiwa.
Namun, berdasarkan Sistem Informasi Kependudukan (SIK) Digital Flobamora Bali
per 9 Desember 2025, warga yang terdata resmi baru 9.098 jiwa.
Angka tersebut dinilai tidak sebanding dengan struktur
Flobamora Bali yang menaungi 18 unit aktif, 1 unit pasif, 2 unit nonaktif, dan
1 unit kategorial perempuan. Beberapa unit bahkan telah melampaui 1.000
anggota, sehingga secara realistis jumlah warga Flobamora yang semestinya
terdata mendekati 25.000 jiwa.
“Artinya, sekitar 45.000 diaspora NTT di Bali belum
terhimpun dalam SIK. Ini bukan kesalahan satu pihak, melainkan tantangan
struktural akibat pertumbuhan diaspora yang cepat tanpa sistem transisi yang
memadai,” jelas Varis dan menambahkan situasi ini membutuhkan tanggung jawab
bersama, bukan saling menyalahkan.
Sepanjang 2025, pemberitaan media online di Bali yang
menyebut pelaku tindak pelanggaran berasal dari NTT menunjukkan pola tertentu
jika dibaca secara kronologis. Salah satu peristiwa yang menyedot perhatian
publik adalah kericuhan di Puri Gading, Jimbaran, pada November lalu. Namun
ditegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan kejadian tunggal, bukan rangkaian
berulang. Aparat telah mengamankan pelaku, memediasi para pihak, dan
menyelesaikannya melalui mekanisme hukum tanpa eskalasi.
Kasus lain adalah pelanggaran lalu lintas di Benoa oleh
oknum asal Kabupaten Belu. Peristiwa ini mendapat kecaman terbuka dari Pembina
Flobamora Bali dan didorong untuk diproses sesuai hukum. Meski demikian, muncul
framing menyesatkan dan ujaran kebencian yang seolah-olah Flobamora Bali
memback up pelanggaran tersebut, narasi yang dinilai tidak berbasis fakta.
Jika dirangkum, peristiwa kamtibmas 2025 yang melibatkan
oknum asal NTT bersifat sporadis, individual, dan tidak berkelanjutan. Yang
membesar bukan jumlah kasusnya, melainkan cara kasus dibaca tanpa konteks
waktu.
“Di sinilah martabat diuji. Martabat tidak dijaga dengan
membela kesalahan, tetapi dengan sikap dewasa di ruang publik,” mengemuka dalam
forum tersebut.
Diskusi juga menekankan pentingnya terminal data transisi
yang bersifat sukarela, bertanggung jawab, dan kolaboratif, agar pelayanan
sosial dapat berjalan secara realistis dan berkelanjutan.
Secara bergantian, usul dan saran disampaikan oleh unit-unit
Flobamora Bali, antara lain dari Biinmafo TTU, Ngada, Sumba Barat Daya, Sumba
Timur, dan Sumba Tengah, serta Ketua Jurnalis Pena NTT. Seluruh masukan
ditanggapi secara humanis oleh Ketua Flobamora Bali Herman Umbu Bili, Ketua
Dewan Pembina Yusdi Diaz, Sekum Varis Wangge, serta Bupati Sabu Raijua Krisman
Riwoe Kore, yang juga mantan Bendahara Umum Flobamora Bali.
Coffee Morning ini dipandu oleh Pembina Flobamora Bali
Fredrik Billy, yang memimpin jalannya diskusi secara landai dan dialogis.
Kegiatan dihadiri para pembina, pengurus inti, dan ketua unit se-Flobamora
Bali.
Sebagai catatan penting di akhir 2025, disampaikan bahwa
tidak terdapat kejadian kriminal yang melibatkan warga Flobamora Bali, berbeda
dengan tahun 2024 yang tercatat 9 kejadian dan tahun 2023 sebanyak 11 kejadian.
Refleksi ini menegaskan bahwa martabat diaspora NTT dijaga
melalui data yang tertib, sikap dewasa, dan tanggung jawab kolektif, sebagai
fondasi menatap tahun 2026 dengan lebih baik. (rls)
