Tim FK Unud melayani pemeriksaan kesehatan warga terdampak
banjir di Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah (Foto: Tim Pengabdian FK Unud)
DENPASAR,
PERSPECTIVESNEWS - Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat tanggap
bencana pada 21–27 Desember 2025 dengan dukungan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan,
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Kegiatan ini difokuskan di
sejumlah wilayah terdampak parah, yakni Kelurahan Sipange, Hutanabolon, dan
Bona Lumban.
Ketua Tim Program Pengabdian Tanggap Bencana FK Unud, Dinar
Saurmauli Lubis, menjelaskan keterlibatan FK Unud dilandasi terutama oleh
alasan kemanusiaan, sekaligus sebagai bentuk penerapan ilmu pengetahuan yang
selama ini dipelajari di lingkungan akademik.
“Alasan paling sederhana tentu kemanusiaan. Namun di sisi
lain, kami memiliki mata kuliah dan kelompok riset yang berkaitan dengan
manajemen kesehatan bencana, sehingga kegiatan ini menjadi ruang untuk
mengaplikasikan teori yang dipelajari di kelas ke dalam aksi nyata di lapangan,”
ujar Dinar, Selasa (6/1/2026).
Tim medis yang berjumlah 10 orang berasal dari berbagai
disiplin, mulai dari Pendidikan Dokter, Spesialis Bedah, Bedah Saraf, Penyakit
Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, hingga Kesehatan Masyarakat. Komposisi tim disesuaikan
dengan kebutuhan lapangan dan kesiapan tenaga medis sebagai relawan.
Selama pelaksanaan kegiatan, tim memberikan layanan
pemeriksaan kesehatan, pengobatan, perawatan luka ringan, serta edukasi
kesehatan yang dilakukan langsung di lingkungan permukiman warga. Sebanyak 227
warga tercatat menerima layanan kesehatan, dengan keluhan terbanyak meliputi
infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, hipertensi, nyeri otot,
sakit kepala, diare akut, hingga gangguan lambung. Selain itu, ditemukan pula
kasus konjungtivitis, migrain, dugaan kecacingan, serta dua warga dengan suspek
tuberkulosis paru.
Dalam kegiatan tersebut, tim juga menemukan seorang lansia
dengan dugaan kanker payudara yang kemudian dirujuk ke fasilitas kesehatan
rujukan melalui pendampingan petugas puskesmas setempat. Selain pelayanan
medis, edukasi kesehatan diberikan kepada 185 anak, khususnya terkait
pencegahan kecacingan dan perlindungan diri. Dalam suasana Natal, anak-anak
terdampak bencana turut menerima bingkisan sederhana sebagai bentuk dukungan psikososial.
Dinar mengakui bahwa pelaksanaan pelayanan kesehatan di
wilayah terdampak tidak lepas dari berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan
akses akibat infrastruktur yang rusak, kondisi geografis yang rawan longsor,
hingga pengelolaan logistik dan transportasi tim. (angga)
