Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja. (Foto: Ist)
DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS- Penjualan eceran di
Provinsi Bali pada bulan Januari 2026 diprakirakan meningkat secara moderat.
Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali sebesar 124,2 atau
secara tahunan tumbuh 6,5% (yoy), dan masih berada di level optimis (>100).
Secara bulanan, IPR Bali meningkat sebesar 0,9% (mtm)
diiringi oleh optimisme pelaku usaha seiring penurunan harga bahan bakar minyak
(BBM) tipe Pertamax per 1 Januari 2026 dari Rp12.750 per liter menjadi Rp12.350
per liter.
Rilis Bank Indonesia Provinsi Bali pada Jumat (13/2/2026)
menyebutkan, pelaku usaha meyakini adanya dorongan berbelanja sejalan dengan
kenaikan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) sebesar 7% (yoy) di seluruh wilayah
Bali.
Lebih lanjut, pelaku usaha di bidang penjualan obat-obatan
menuturkan bahwa penjualan obat-obatan dan vitamin mengalami kenaikan
permintaan yang disebabkan oleh peralihan cuaca, sehingga harga obat-obatan dan
vitamin turut meningkat.
Pelaku usaha peralatan sekolah turut menunjukkan optimisme
penjualan, dengan adanya momentum peralihan tahun ajaran baru.
Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan
terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang
bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan
ekonomi dari sisi konsumsi.
Berdasarkan komponen pembentuknya, terdapat enam sub sektor
pembentuk IPR dengan pertumbuhan bulanan tertinggi pada kategori Barang Lainnya
(Farmasi, Kosmetik, Elpiji untuk Rumah Tangga, dan Barang Kimia untuk Rumah
Tangga) dengan peningkatan sebesar 3,2% (mtm); Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
dengan peningkatan sebesar 3,2% (mtm); Sandang dengan peningkatan sebesar 2,6%
(mtm); Peralatan Informasi dan Komunikasi dengan peningkatan sebesar 2,3%
(mtm); Barang Budaya dan Rekreasi (mencakup alat tulis dan alat olahraga)
dengan peningkatan sebesar 2,3% (mtm); serta Makanan, Minuman dan Tembakau
dengan peningkatan sebesar 1,4% (mtm). Optimisme turut tercermin dari data
Laporan Umum Bank Terintegrasi pada Lapangan Usaha (LU) Perdagangan per
Desember 2025 dengan pertumbuhan sebesar 1,44% (yoy), lebih tinggi dari
November 2025 sebesar 0,95% (yoy). Kinerja IPR di Bali yang bertumbuh
menunjukkan tingkat konsumsi masyarakat di Bali masih dalam tren positif.
Meskipun demikian, prospek penjualan ritel di Bali yang
tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) diperkirakan sempat mengalami
perlambatan sebelum akhirnya meningkat. IEP menggambarkan keyakinan pelaku
usaha terhadap kinerja penjualan dalam jangka pendek hingga menengah.
Para responden memperkirakan penjualan dalam 3 bulan yang
tercermin dari IEP Maret 2026 sebesar 126, lebih rendah dari IEP Februari 2026
sebesar 164.
Di sisi lain, prakiraan penjualan dalam 6 bulan ke depan,
tepatnya pada Juni 2026 sebesar 184, lebih tinggi dari IEP Mei 2026 sebesar
176. Kedua IEP berada di zona optimis (IEP > 100). Di tengah ketidakpastian
geopolitik global dan nasional, IEP mencerminkan perekonomian Bali yang tetap
terjaga.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin
Soeriadimadja mengatakan, untuk mendukung stabilitas ekonomi domestik, Bank
Indonesia masih mempertahankan suku bunga kebijakan di bulan Januari 2026.
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali
terus mengakselerasi operasi pasar murah menjelang libur Imlek, Ramadan, dan
Nyepi untuk komoditas strategis.
Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin
Soeriadimadja, Bank Indonesia Provinsi Bali bersama TPID baik di tingkat
provinsi maupun kabupaten/kota terus berupaya untuk menjaga kestabilan harga,
melindungi daya beli masyarakat, dan memastikan agar perekonomian Bali tetap
tumbuh berkelanjutan. (lan/bi)
