DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS – Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menghadiri rangkaian upacara sakral Karya Memungkah, Ngenteg Linggih, Tawur Balik Sumpah Utama, dan Pedudusan Agung di Pura Dalem Pengaotan, Desa Adat Bekul, Desa Penatih Dangin Puri, Kecamatan Denpasar Timur, pada Minggu (21/6).
Kehadiran Wali Kota Jaya Negara bersama jajaran ini menjadi bentuk nyata dukungan Pemerintah Kota Denpasar terhadap pelestarian adat, budaya, serta tradisi spiritual masyarakat Bali. Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Jaya Negara turut menandatangani prasasti sekaligus menyerahkan dana Punia dan bantuan hibah secara langsung.
Turut hadir mendampingi Wali Kota, Anggota DPRD Provinsi Bali, IGN Gede Marhaendra Jaya; Kepala Bagian Kesra Setda Kota Denpasar, IB. Alit Surya Antara; serta Camat, Perbekel, Bendesa, dan tokoh masyarakat setempat.
Rangkaian acara berlangsung khidmat dan semarak dengan iringan Gambelan Gong Kebyar dan Baleganjur. Suasana sakral upacara semakin kental dengan pementasan berbagai tari wali, mulai dari Tari Rejang Dewa, Topeng Wali, Wayang Lemah, hingga pementasan tari Baris Gede yang dibawakan langsung oleh Bendesa se-Kota Denpasar.
Di sela-sela acara, Wali Kota Jaya Negara menyampaikan bahwa pelaksanaan karya besar seperti Pedudusan Agung bukan hanya sebagai wujud sradha bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, melainkan juga menjadi momentum penting untuk mempererat persatuan dan kebersamaan masyarakat adat.
“Karya seperti ini merupakan warisan luhur yang harus terus dijaga bersama. Semangat ngayah yang ditunjukkan krama adat menjadi kekuatan utama dalam menjaga adat, budaya, dan nilai kebersamaan masyarakat Bali. Pemerintah Kota Denpasar tentu memberikan dukungan agar tradisi dan kearifan lokal tetap lestari,” ujarnya.
Lebih lanjut, Jaya Negara menekankan bahwa rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi dharmaning agama (kewajiban sebagai umat beragama) dan dharmaning negara (kewajiban sebagai warga negara).
"Kami berharap dengan upacara ini dapat memberikan manfaat yang baik secara sekala dan niskala bagi masyarakat," imbuh Jaya Negara.
Merespons dukungan tersebut, Bendesa Adat Bekul, Made Yuliarta, menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam atas bantuan hibah serta perhatian yang diberikan oleh Pemerintah Kota Denpasar, khususnya Wali Kota Denpasar beserta jajaran.
“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan. Bantuan ini tentu sangat bermanfaat untuk mendukung jalannya upacara,” ungkap Made Yuliarta.
Ia menjelaskan bahwa Pura Dalem Pengaotan ini diempon oleh sekitar 250 kepala keluarga (KK) yang berasal dari empat banjar. Keempat banjar tersebut meliputi Banjar Gunung, Banjar Buaji, Banjar Bekul selaku banjar pengarep (inti), serta Banjar Pala Giri sebagai banjar pendatang.
Mengenai lini masa upacara, Yuliarta memaparkan bahwa rangkaian karya telah dimulai sejak 1 Mei 2026 yang diawali dengan prosesi matur piuning, maguru piduka, dan mejaya-jaya panitia karya. Selanjutnya, prosesi melasti dilaksanakan pada 8 Juni, disusul Tawur Balik Sumpah pada 12 Juni. Puncak karya berlangsung hari ini (21/6), yang kemudian akan dilanjutkan dengan prosesi nyineb pada Minggu, 28 Juni, dan diakhiri dengan prosesi nyegara gunung pada Kamis, 2 Juli 2026 mendatang.
Menurut Yuliarta, Pedudusan Agung merupakan tingkatan upacara besar (utama) yang wajib dilaksanakan secara turun-temurun oleh generasi masyarakat adat dalam kurun waktu sekitar 50 hingga 70 tahun sekali, menyesuaikan dengan kondisi masyarakat dan kemampuan pendanaan.
“Kalau karya rutin dilaksanakan setiap 15 tahun berupa Pedudusan Alit. Sedangkan Pedudusan Agung ini merupakan tingkatan karya yang lebih utama dan wajib dilaksanakan masyarakat apabila situasi dan kondisi sudah memungkinkan,” jelasnya.
Untuk menyelenggarakan karya besar kali ini, pihak desa adat menganggarkan dana sekitar Rp3,5 miliar. Anggaran tersebut bersumber dari swadaya masyarakat serta didukung oleh bantuan dari Pemerintah Kota Denpasar. Dana tersebut tidak hanya dialokasikan untuk Pura Dalem Pengaotan, tetapi juga mencakup rangkaian karya di empat pura lainnya, termasuk pelaksanaan Pedudusan Alit di Pura Taman Beji dan Pura Puseh Desa.
Melalui pengorbanan suci (yadnya) ini, Yuliarta berharap krama desa adat senantiasa dianugerahi keselamatan dan keharmonisan.
“Harapan kami tentunya masyarakat selalu mendapat lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, diberikan kesehatan dan kerahayuan. Dari sisi sekala, yadnya ini juga menjadi momentum memperkuat persatuan, gotong royong, dan rasa kebersamaan seluruh krama adat,” pungkasnya. (Eka/HumasDps)