Perspectives News

Lihat Pembuatan Gebogan, Itulah Salah Satu Niat Wisatawan ke Festival Parade Gebogan dan Beleganjur di DTW Ulun Danu Beratan

 


Salah satu wisatawan yang mengusung Gebogan di atas kepalanya usai melihat pembuatannya serangkaian Festival Parade Gebogan dan Beleganjur, Rabu (15/7/2026), di DTW Ulun Danu Beratan, Tabanan. (Foto: perspectives)

TABANAN, PERSPECTIVESNEWS- Sejak dibuka secara resmi oleh Bupati Tabanan Komang Gede Sanjaya pada 21 Juni 2026, Festival Parade Gebogan dan Beleganjur di DTW Ulun Danu tetap ramai pengunjung domestik dan asing.

Seperti yang disampaikan Humas DTW Ulun Danu Beratan, Agus Teja Saputra, di Tabanan, Rabu (15/7/2026), pengunjung atau wisatawan domestik dan asing tetap ramai berkunjung namun sedikit berkurang karena libur sekolah sudah usai.

“Sejak dibuka pada 21 Juni 2026 sampai hari ini (Rabu, 15 Juli 2026-red), tetap ramai wisatawan meskipun tidak seramai saat libur sekolah, apalagi saat jam kerja seperti siang ini. Biasanya sore atau akhir pekan, jumlah pengunjung meningkat tajam,” terang Agus.

Agus tidak menampik jika jumlah pengunjung juga sedikit terdampak akibat situasi perang yang berpengaruh pada situasi ekonomi dan politik global saat ini. Namun, sebagai DTW yang sudah menyelenggarakan festival rutin setiap 2 kali dalam setahun (Juni dan Desember), atraksi seni dan budaya yang digelar selama festival yang digelar selama 50 hari ini, tetap diminati.

Banyak tamu asing yang datang untuk melihat langsung pembuatan Gebogan dan filosofinya. “Akhirnya, kami sediakan fasilitas agar mereka tidak sekadar menonton, tapi bisa praktik langsung dengan bimbingan warga lokal,” ujar Agus.

Langkah ini diambil setelah banyaknya permintaan dari wisatawan mancanegara yang ingin merasakan langsung pengalaman membuat persembahan yang estetik tersebut.


Humas DTW Ulun Danu Beratan, Agus Teja Sanjaya. (Foto: perspectives)

Tidak hanya menjadi ajang tontonan, di balik indahnya susunan buah yang menjulang, terdapat upaya serius untuk menjaga regenerasi budaya.

Peserta parade kali ini didominasi oleh ibu-ibu PKK dari Kecamatan Marga yang masih berusia muda.

“Kami memang membatasi usia peserta di bawah 45 tahun. Tujuannya agar ada regenerasi, sehingga pakem-pakem pembuatan gebogan yang sudah diwariskan turun-temurun tetap terjaga di tangan generasi muda,” tambah Agus.

Festival yang diselenggarakan selama 50 hari, mulai dari 21 Juni hingga 9 Agustus 2026 ini, menampilkan Parade Gebogan dan Baleganjur yang melibatkan 20 desa adat di Baturiti. Rangkaian pertunjukan dilangsungkan di dua lokasi, yakni DTW Ulun Danu Beratan dan The Blooms Bali.

Perpaduan seni tari, gamelan, dan tradisi menjadi daya tarik dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya. Parade Gebogan dan Beleganjur tidak hanya menjadi pertunjukan wisata, tapi juga menjadi ruang pelestarian tradisi masyarakat.

Ketika dipadukan dengan Beleganjur, maka parade ini menjadi representasi yang sangat tepat dalam menampilkan kekayaan budaya dan spiritualitas masyarakat Tabanan.

Para wisatawan khususnya asing sangat menikmati atraksi pembuatan Gebogan dari awal sampai akhir bahkan beberapa di antaranya mencoba mengusung Gebogan di atas kepalanya.

Seperti yang dikatakan Mrs. Hong dari Vietnam Selatan namun bermukim di Amerika Serikat, mengaku senang bisa mencoba mengangkat dan meletakkan Gebogan di atas kepalanya yang sekaligus diabadikan dalam kamera pribadinya.

Pihak pengelola DTW Ulun Danu Beratan sendiri memberikan ruang khusus bagi wisatawan di area Wantilan Beji untuk mencoba merangkai gebogan.

Langkah ini diambil setelah banyaknya permintaan dari wisatawan mancanegara yang ingin merasakan langsung pengalaman membuat persembahan yang estetik tersebut.

Para peserta parade membawa kreativitas masing-masing dengan mengangkat cerita dari banjar asalnya ke dalam sebuah fragmentari. (lan)

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama