Perspectives News

Festival Gebogan dan Baleganjur Resmi Ditutup, Jadi Ikon Wisata Ulun Danu Beratan dan The Blooms Garden

  

Pengumuman sekaligus penyerahan tropi bagi desa adat yang menang dalam lomba parade gebogan dan baleganjur yang berlangsung selama 1,5 bulan sejak 21 Juni-9 Agustus 2026. (Foto: perspectives)

TABANAN, PERSPECTIVESNEWS- Festival Gebogan dan Parade Baleganjur yang berlangsung dari 21 Juni – 9 Agustus 2026, resmi ditutup. Tahun depan diharapkan berlangsung lebih sukses mengingat DTW Ulun Danu Beratan dan The Blooms Garden Baturiti telah menjadi ikon yang makin diminati.

Festival Gebogan dan Baleganjur yang rutin digelar setiap tahun sejak tahun 2023 tersebut, kini mampu mendulang jumlah pengunjung cukup signifikan. Bahkan terjadi peningkatan sekitar 12 persen dari kunjungan pada hari biasa.

Humas DTW I Made Sukarata menyebutkan, sejak festival yang kini menjadi ikon DTW Ulun Danu Beratan dan The Blooms Baturiti, Tabanan itu digelar selama 1,5 bulan, jumlah pengunjung di atas rata-rata kunjungan hari biasa.


Humas dan Marketing The Blooms Garden, I Made Sukarata. (Foto: perspectives)

“Ada peningkatan sekitar 12 persen. Dan itu sifatnya jadi peningkatan rutinitas pula. Festival yang bertujuan mengenalkan kepada pengunjung bagaimana desa adat di wilayah kami mempertahankan tradisi, adat dan budaya dan menjadi daya tarik tersendiri. Itu tampak dari tingginya minat pengunjung (wisatawan lokal dan asing) yang serius mengikuti atraksi-atraksi yang ditampilkan selama festival berlangsung,” ungkap Sukarata usai penutupan festival, Minggu (9/8/2026).

Menurut Direktur Utama PT Ulun Danu Beratan Lestari, I Wayan Mustika dalam satu kesempatan mengatakan, khusus untuk di DTW Ulun Danu Beratan, jumlah pengunjung yang datang rata-rata berkisar 2.000 orang sementara saat berlangsungnya festival bisa mencapai 2.500 orang atau terjadi kenaikan sekitar 12 persen.

“Dan di The Blooms Garden, peningkatannya cukup signifikan, bisa mencapai 50 persen. Yang rata-rata berkisar 400-500 orang, menjadi 700-800 orang per hari,” tutur Mustika.  

Dari karakteristik wisatawan, DTW Ulun Danu Beratan didominasi wisatawan asing seperti India dan Australia sementara The Blooms Garden lebih banyak dikunjungi wisatawan lokal seperti Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Selain didukung keindahan alam yang indah, daya tarik bagi wisatawan adalah atraksi pembuatan gebogan di mana para wisatawan bisa terlibat langsung cara pembuatan dan bahan apa saja yang dipakai.

“Istimewanya adalah kesempatan bagi pengunjung untuk terlibat langsung. Kami ingin pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat merasakan interaksi langsung dengan budaya Bali melalui prosesi pembuatan gebogan,” sambung Sukarata.

Dan pihak pengelola pun, memberikan ruang bagi para wisatawan, untuk mempelajari cara merangkai gebogan dari awal hingga akhir. Dan itu menjadi kenangan sekaligus pengalaman tak terlupakan bahkan menjadi sarana promosi tersendiri.

Keberhasilan ini juga tidak terlepas dari kolaborasi strategis dengan para agen perjalanan dari berbagai daerah, termasuk dari Pulau Jawa seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Yogyakarta.

Pada penutupan festival, juga diumumkan para pemenang, baik parade Gebogan maupun Baleganjur. Dengan sejumlah hadiah mencapai puluhan juta rupiah, diharapkan festival memberi dampak berkelanjutan bagi pelestarian adat dan budaya bagi desa adat yang mengusungnya. (lan)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama