Buka ITMW 2026, Gubernur Koster Desak Pusat Beri Alokasi Anggaran Proporsional untuk Infrastruktur Pariwisata Bali


Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi membuka ajang The 2nd Indonesia Tourism Marketing Week (ITMW) 2026 di Ballroom Wantilan, Prama Sanur Beach Bali, Denpasar, Sabtu (17/10/2026). (Foto:Humas-Prov.Bali) 

DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS — Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi membuka ajang The 2nd Indonesia Tourism Marketing Week (ITMW) 2026 di Ballroom Wantilan, Prama Sanur Beach Bali, Denpasar, Sabtu (17/10/2026). Dalam forum tahunan tersebut, Koster secara tegas mendesak pemerintah pusat untuk memberikan dukungan kebijakan pembiayaan infrastruktur yang proporsional dan mempertimbangkan kontribusi besar Bali terhadap perekonomian nasional.

Koster mengungkapkan, sektor pariwisata Bali pada tahun 2025 berhasil mencatatkan 16,3 juta kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara, yang menyumbang devisa sebesar Rp176 triliun. Angka ini setara dengan 55 persen dari total devisa pariwisata nasional yang mencapai Rp319,9 triliun, sekaligus menopang 66 persen pertumbuhan ekonomi Pulau Dewata.

"Kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi Bali sangat tinggi, yaitu 66 persen," sebut Koster di hadapan para pemangku kepentingan pariwisata nasional.

Kendati tumbuh positif serta berdampak pada peningkatan PDRB, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan penurunan angka kemiskinan, pesatnya sektor ini membawa tantangan serius. Pemprov Bali kini menghadapi masalah alih fungsi lahan sawah, penanganan sampah, kemacetan, keterbatasan transportasi publik, hingga kasus penodaan tempat suci.

Untuk mengatasi persoalan tersebut secara komprehensif, Koster menilai pendekatan dana transfer ke daerah dari pemerintah pusat tidak bisa disaratkan secara seragam. Bali harus menyediakan fasilitas dan layanan publik yang tidak hanya diperuntukkan bagi warga lokal, melainkan juga melayani jutaan wisatawan setiap tahunnya.

"Setahu saya sejak duduk di DPR, kita belum pernah membuat kebijakan yang memperhatikan kondisi spesifik daerah. Transfer dana pembangunan untuk infrastruktur dipolakan dengan treatment yang hampir seragam untuk setiap daerah. Akibatnya kita tak memandang wilayah seperti Bali yang memberi kontribusi cukup besar bagi negara," urai Koster.

Ia memaparkan bahwa pengembangan pariwisata berkelanjutan dan berkualitas tidak cukup hanya mengandalkan daya tarik alam serta kebudayaan semata, melainkan butuh penyediaan ekosistem pendukung yang kuat.

"Kalau budaya, itu memang sudah anugerah. Tapi untuk mewujudkan pariwisata yang berkualitas, itu saja tak cukup. Transportasi dan infrastruktur harus bagus, sampah teratasi, air tersedia, dan lain-lain," tegasnya.

Mengacu pada Teori Hierarki Kebutuhan Maslow yang dipelajarinya sejak menjadi legislator DPR RI, Koster menyebut berwisata telah menjadi bagian kebutuhan dasar manusia modern. "Karena itu, pariwisata adalah dunia yang paling nyata. Kalau kita mampu mendorong pertumbuhan sektor ini, maka akan berdampak pada sektor yang lain. Karena itu, harus dibangun dengan sangat detail," lanjutnya.

Gubernur Koster juga mengingatkan bahwa persaingan pariwisata saat ini sudah berada pada tingkat global. Bali harus berani mengadopsi standar negara tetangga agar tidak kehilangan daya saing. "Negara-negara itu (Singapura, Malaysia, dan Thailand) yang kami jadikan role model untuk ditiru. Sebab kalau tidak, daya saing Bali akan turun," tambahnya.

Oleh karena itu, Koster berharap pemerintah pusat mengalokasikan pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sedikitnya 5 persen dari total devisa yang dihasilkan Bali (sekitar Rp176 triliun) guna memperkuat konektivitas dan infrastruktur antarwilayah. Peningkatan kualitas ini diyakini akan kembali berdampak positif pada peningkatan devisa negara secara agregat.

"Ini juga akan mengangkat ekonomi nasional karena devisa makin tumbuh. Setelah itu, baru kita mulai bicara bagaimana mengkoneksikan pariwisata Bali dengan daerah lain, sebagaimana yang menjadi tujuan dari pelaksanaan Forum ITMW ini," pungkas Koster.

Ajang ITMW 2026 sendiri merupakan forum tahunan bentukan MarkPlus Tourism (MCorp) yang mengusung tema “Reimagining Tourism: In a Fragmented World!”. Berlangsung selama lima hari pada 14–18 Oktober 2026 di pelbagai titik lokasi di Bali, forum ini mempertemukan unsur pemerintah, pengelola destinasi, pelaku industri, akademisi, hingga praktisi pemasaran untuk merumuskan strategi daya saing pariwisata Indonesia di tengah dinamika global.

Founder and Chair MCorp, Hermawan Kartajaya, menekankan pentingnya integrasi promosi digital, pemberdayaan komunitas lokal, serta pariwisata berkelanjutan. Ia mengapresiasi Bali sebagai role model utama pengelolaan pariwisata nasional.

“Saya pikir, semua harus belajar dari Bali, juaranya di Indonesia,” kata Hermawan.

Rangkaian agenda ITMW 2026 turut diisi dengan pelbagai kegiatan interaktif dan edukatif, seperti kompetisi meracik kopi, aksi konservasi lingkungan dan pelepasan tukik, diskusi digitalisasi dan penerapan kecerdasan artifisial (AI), hingga konferensi yang menghadirkan deretan pembicara tingkat nasional. (*) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama