Tim Peneliti Jurusan Gizi didukung perwakilan dari HMJ Gizi melaksanakan safari kesehatan dengan memperkenalkan terapi komplementer pijat tuina upaya percepatan penurunan stunting, Sabtu (3/10/2026). (Foto: Ist)
DENPASAR, PERSPECTIVESNEWS- Selama hampir sebulan
lebih secara berturut – turut, Tim Peneliti Jurusan Gizi yang terdiri atas Dr.
I Wayan Juniarsana, SST, M.Fis; Ir. Hertog Nursanyoto, M.Kes; dan I Made
Suarjana, SKM, M.Kes didukung perwakilan dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Gizi
(HMJ Gizi) melaksanakan safari kesehatan.
Safari dalam bentuk penyelenggaraan Latihan Penyegaran Kader
yang diikuti oleh perwakilan kader dari seluruh Posyandu yang ada di 4 desa
lokasi khusus stunting yaitu: 1) Bajera Utara Kecamatan Selemadeg Kabupaten
Tabanan; 2) Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung; 3) Batubulan Kangin
Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar serta 4) Tegalkertha Kecamatan Denpasar
Barat Kota Denpasar.
Pelatihan kader ini menurut Wayan Juniarsana yang ditemui di
Denpasar Sabtu (3/10/2026) mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan sebagai
tahapan kegiatan Penelitian Model Integrasi Ginalatrik (Edukasi Gizi, Pijat
Tuina, dan Latihan Psikomotorik dalam Upaya Percepatan Penurunan Stunting dan
Gizi Kurang pada Anak Balita) di Provinsi Bali yang merupakan Penelitian
Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT) di Politeknik Kesehatan Kemenkes Denpasar.
Keterlibatan HMJ Gizi dalam kegiatan ini pada dasarnya
merupakan implementasi dari model inovasi kegiatan pengabdian masyarakat yang dikembangkan oleh Tim
Pengabdian Masyarakat Jurusan Gizi melalui konsep OSOB (One Student One Banjar).
Melalui konsep ini, dalam setiap pengabdian kepada
masyarakat yang dilaksanakan oleh Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Denpasar,
mahasiswa dilibatkan secara aktif untuk terjun langsung ke masyarakat sebagai
agent of chance untuk mempercepat tercapainya tujuan pembangunan kesehatan.
Dengan dilibatkan langsung pada kegiatan kemasyarakatan
sejak menjadi mahasiswa, diharapkan lulusan yang dihasilkan Jurusan Gizi
Poltekkes Kemenkes Denpasar, menjadi tenaga kesehatan yang siap pakai dan
langsung memahami masalah kesehatan yang harus ditanggulangi di wilayah
kerjanya.
Seluruh kader yang dilatih menyambut antusias kegiatan ini,
karena materi yang disajikan merupakan inovasi baru yang dapat dijadikan
sebagai tambahan pengetahuan dan ketrampilan mereka dalam mengelola posyandu.
Dalam sambutannya, Perbekel Desa Pelaga, I Ordin berharap
kegiatan ini dapat memberikan dampak positif dalam upaya percepatan penurunan
stunting yang terus digiatkan sesuai taget yang ditetapkan oleh Pemerintah
Kabupaten Badung.
Model ini merupakan integrasi dari edukasi gizi, stimulasi
pijat Tuina, dan latihan psikomotorik bagi balita stunting.
“Karena penyegaran kader ini merupakan kegiatan inovatif,
Kami berharap kegiatan ini dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan
posyandu dan menurunkan angka stunting di Desa Pelaga,” tambahnya.
Bahkan ketua tim Penggerak PKK Desa Batubulan Kangin,
menekankan kepada para kader, tentang pentingnya materi pelatihan ini, dan
berharap agar menularkan pengetahuan ini kepada kader yang tidak berkesempatan
mengikuti pelatihan penyegaran kader ini.
Dalam penyampaian materinya, narasumber pertama Dr. I Wayan
Juniarsana, SST, M.Fis menuturkan, upaya percepatan penurunan stunting di Bali
masih harus digencarkan karena selama ini masih tumbuh persepsi yang keliru
tentang stunting.
Anak yang terlihat lebih pendek dibanding yang seusianya
hanya dipandang sebagai gangguan pertumbuhan fisik, sehingga intervensi utama
yang dilakukan berupa pemberian makanan tambahan (PMT) yang bernilai gizi
tinggi pada sasaran.
Padahal PMT yang diberikan belum tentu dikonsumsi oleh
sasaran. Bahkan bisa jadi paket PMT itu dimakan oleh anggota keluarga yang
lain. Faktor yang memicu kehilangan selera
makan, terlebih bagi mereka yang mengalami stunting, terjadi karena
memang tubuhnya belum siap mereka asupan gizi yang adekuat.
Perkembangan sistem dalam tubuhnya memang belum mampu
menyerap optimal asupan zat gizi yang diberikan. Akibatnya PMT yang diberikan
tidak dihabiskan oleh anak stunting dan dikonsumsi oleh anggota keluarga lain.
Disinilah letak pentingnya Pijat Tuina. Terapi komplementer
yang diadaptasi dari metode pengobatan tradisional China ini merupakan upaya
meningkatkan selera makan, menstimulasi pertumbuhan, mencegah dan meredakan
gejala penyakit pada anak.
Pijat Tuina dilakukan dengan menekan titik – titik
akupunktur pada tubuh anak menstimulasi fungsi pencernaan dan
mengharmonisasikan sirlukasi chi (pergerakan energi) dalam tubuh anak.
Kelancaran aliran energi ini sangat menentukan kesehatan
organ tubuh, sehingga diharapkan dapat mengatasi kesulitan makan dan mengejar
ketertinggalan proses pertumbuhan anak stunting.
Untuk mengetahui efektifitas terapi komplementer pijat tuina
ini narasumber kedua Ir. Hertog Nursanyoto, M.Kes memaparkan suatu aplikasi
berbasis jaringan yang dapat dimanfaatkan untuk monitoring pertumbuhan dan
perkembangan anak secara realtime.
Dengan mengoperasikan aplikasi ini maka kader akan
mendapatkan informasi tentang perkembangan anak tanpa harus menunggu laporan
hasil penimbangan.
Melalui aplikasi ini edukasi gizi di Posyandu dapat
dilakukan dengan tepat sasaran disesuaikan dengan kondisi anak saat itu juga
setelah anak diukur.
Penyegaran kader diakhiri oleh penyampaian materi gizi
seimbang oleh HMJ Gizi. Gizi seimbang pada dasarnya merupakan pengaturan jenis,
jumlah dan frekuensi pemberian makan yang terpola setiap harinya. Pola makan
yang benar sangat berperan penting dalam proses pertumbuhan anak.
Sebaliknya, pola makan yang salah justru akan memicu
gangguan pertumbuhan pada anak. Materi ini sangat berguna sebagai pedoman bagi
ibu untuk mengatur pemberian makan anaknya, manakala selera makannya sudah
kembali sebagai dampak pijat tuina.
Tanpa dibekali dengan pengetahuan gizi seimbang, selera
makan anak yang baik bukan tidak mungkin justru akan menyebabkan anak mangalami
masalah gizi kembali akibat pemberian makanan yang keliru.
Sebagai contoh, pada kasus gizi lebih pada anak seringkali
terjadi karena anak dijejali makanan empty caloric dan junkfood akibat
ketidaktahuan ibunya.
Penyegaran kader diakhiri dengan praktek langsung
pengoperasian aplikasi berbasis jaringan oleh kader dengan sasaran anak yang
mengalami masalah gizi yang berada di wilayah kerja Banjar Bukian.
Para kader yang berlatih mengoperasikan aplikasi monitoring
tumbuh kembang berbasis jaringan merasa puas dengan hasil penyegaran ini.
Aplikasi ini sangat memudahkan kami dalam menjalankan tugas kader di lapangan.
Apalagi ditambah dengan bekal pengetahuan yang diperoleh
dari hasil penyegaran membuat para kader memiliki panduan yang lebih pasti
untuk memilih tema edukasi yang harus disampaikan pada ibu – ibu yang anaknya
mengalami masalah gizi.
Dengan adanya respons positif semacam ini, diharapkan kader
posyandu dapat menjadi agen perubahan dalam upaya percepatan penurunan stunting
di Provinsi Bali.
Dari Tim Peneliti Jurusan Gizi khususnya HMJ Gizi juga terus
berkomitmen yang melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat semacam ini guna
meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan masyarakat. (dew)